iklan banner 250x250

Raudhah: Taman Syurga

Raudhah? Pasti nama itu melekat dalam ingatan para jamaah haji dan umrah. Sebauh bagian dari masjid Nabawi yang ditandai dengan karpet berwarna hijau. Letaknya pas di bawah kubah hijau mesjid Nabawi.

Ekspedisi Gua Hira

Mekkah, 10/11 | Kemenag.go.id—Setelah delapan hari di Mekah, saya dan enam rekan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Daerah Kerjker Mekah berkesempatan berziarah ke Gua Hira di Jabal Nur.

Rahasia Masjid Quba

Masjid Quba adalah mesjid yang dibangun atas dasar takwa (Surat At Taubah:108). Ia adalah masjid pertama yang dibangun oleh Rasulullah saw. pada tahun 1 Hijriyah atau 622 Masehi di Quba, sekitar 5 km di sebelah tenggara kota Madinah.

Kisah Nyata: Tukang Becak Naik Haji

Kaskus.Co.Id | Warga Rw 02 Rt 02 Kelurahan Pabean Pekalongan Utara, Tholib (53) alias Carub yang berprofesi tukang becak, berhasil mengumpulkan uang selama 25 tahun, hingga mencapai Rp 42 juta...

Kemana Anda Dapat Membadalkan Haji?

Hal yang paling penting sebelum anda mewakilkan badal haji dan umrah kepada orang lain, maka lihat dan periksalah terlebih dulu, apakah yang bersangkutan itu dapat menjaga amanah.

Tampilkan postingan dengan label Rindu haji. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rindu haji. Tampilkan semua postingan

Keniscayaan Rindu Haji dan Umrah

Siapapun yang pernah memenuhi undangan Allah swt, baik dalam rangka umrah ataupun haji, maka sekembalinya ke tanah air, mereka akan merasakan kerinduan mendalam. Sebuah kerindungan yang tidak dapat dilukiskan seperti kesenangan saat berwisata ke tempat terindah manapun di dunia. Namun, ia adalah kerinduan yang hanya dapat dilukiskan oleh goresan keimanan dalam kanvas jiwa mereka. Karenanya, jika seseorang yang pernah mendatangi Makkah Madinah hanya sebatas karena niat berwisata atau shopping, maka dia tidak akan pernah menikmati lezatnya kerinduan di kedua kota suci ini.

Seperti yang pernah diulas oleh situs dakwatuna.com yang menceritakan kembali pengalaman spiritual Syeh Abdulloh bin Al-Mubarok. Waktu itu cuaca Mekah tidak sangat panas. Meski ada terik, di saat-saat tertentu angin berhembus, menciptakan jenak-jenak kesegaran, utamanya bagi ratusan ribu jamaah haji. Dan satu di antara 600an ribu jamaah haji saat itu adalah seorang ulama masyhur, Abdulloh bin Al-Mubarok rahimahulloh. Beliau adalah memang seorang ulama yang kaya raya, maka baginya berziarah ke Mekah bukan hal yang sulit kendatipun tempat tinggalnya jauh dari Mekah.

Saat itu, setelah melakukan serangkaian ritual ibadah haji Abdulloh bin Al-Mubarok rahimahulloh tertidur. Dalam tidurnya ia bermimpi melihat dua malaikat turun dari langit dan melakukan percakapan di antara mereka. “Ada berapa orang yang berhaji tahun ini?” tanya malaikat pertama kepada temannya. “Ada enam ratus ribu,” jawab temannya. “Berapa di antara mereka yang diterima hajinya?” tanya yang pertama lagi. “Tak satu pun,” tegas malaikat kedua.
Jawaban itu membuat Abdulloh bin Al-Mubarok rahimahulloh risau bercampur rasa takut. Dia kaget dan menangis. “Bukankah mereka datang ke tanah suci ini dengan penuh rintangan dan ujian? Mengapa usaha mereka menjadi sia-sia?” gumamnya dalam mimpi itu. Tapi kemudian ia dikejutkan oleh suara malaikat kedua, “Kecuali seorang sepatu di Damaskus yang bernama Ali bin Muwaffaq. Dia memang tidak datang berhaji, namun haijnya diterima dan seluruh dosanya diampuni. Bahkan, lantaran dia maka ibadah seluruh jamaah haji diterima Allah.” Mendengar itu Abdulloh bin Al-Mubarok rahimahulloh begitu takjub, seketika ia terbangun dari tidurnya. Usai menuntaskan hajinya, ia bergegas ke Damaskus, mencari sosok Ali bin Muwaffaq.
Cukup lama ia mencari, namun akhirnya ia temukan juga lelaki itu. Setelah menyapa dengan salam, ia bertanya, “Siapakah namamu dan apakah pekerjaanmu?” lelaki itu menjawab, “Ali bin Muawaffaq, aku seorang penjual sepatu. Siapakah tuan?” kata Ali balik bertanya. Abdulloh bin Al-Mubarok rahimahulloh kemudian memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud kedatangannya. Setelah lelaki itu mendengar penjelasannya dan tahu dengan siapa ia berhadapan, tiba-tiba ia menangis dan jatuh pingsan. Setelah sadar, Ibnu Al-Mubarok rahimahulloh meminta agar ia menceritakan bagaimana keutamaan itu bisa ia dapatkan.
“Selama 40 tahun aku telah rindu untuk berhaji. Dan untuk mewujudkan rindu itu, aku telah mengumpulkan biaya perjalanan sebesar 350 dirham, hasil dari berdagang sepatu. Maka tahun ini aku memutuskan untuk berangkat ke Mekah. Namun, suatu hari istriku yang sedang hamil mencium aroma masakan yang lezat dari salah seorang tetangga. Istriku sangat berhasrat mencicipinya. Aku pun pergi ke rumah tetangga itu untuk sekadar meminta sedikit saja masakannya.
Tapi ketika kusampaikan maksudku, tetangga itu menangis, “Sudah tiga hari ini anak-anakku tidak makan apa-apa. Dan hari ini, aku menemukan bangkai keledai tergeletak, lalu memotongnya dan memasaknya untuk mereka. Ini bukan makanan yang halal bagimu.” Katanya padaku. Aku pun iba kepadanya dan merasa sangat bersalah karena tidak memperhatikannya. Maka uang 350 dirham kuberikan kepadanya. “Ini biaya perjalanan ibadah hajiku tahun ini, belanjakanlah untuk anak-anakmu. Pintaku kepadanya” Mendengar kisah itu Abdulloh bin Al-Mubarok rahimahulloh berujar, “Sungguh benar penguasa kerajaan surga dalam keputusan-Nya.”
Kerinduan berhaji adalah sebuah keniscayaan bagi keimanan kita. Inilah kerinduan yang harus tetap terjaga, tak peduli apa atau bagaimana keadaan kita. Kerinduan berhaji adalah kerinduan yang tak pernah tersia se–zarah pun, karena seandainya jasad ini tak menggapainya, Allah pasti tidak akan mengabaikan rindu ini. Seperti Ali bin muwaffaq, fisiknya memang tak dapat hadir dalam ibadah haji, tapi kerinduan dan ketulusannya akan tanah suci telah terbayar kontan oleh Allah langsung.
Kerinduan pada tanah suci adalah kerinduan menembus batas waktu dan ruang. Karena di sanalah napak tilas keteladanan Ibrahim dan Ismail dapat kita resapi. Di sanalah jejak romantika kehidupan Rasulullah dan para sahabat kita dapati. Maka demi Allah, rindu pada tanah Mekah yang suci dan kota Madinah yang terberkahi adalah pola rindu yang harus tetap ada dalam hati, tak peduli apa dan bagaimana kondisi kita. 

Wahai Allah, perkenankanlah kami berziarah di rumah-Mu dan kota rasul Mu, Aamiin

Kisah Nyata: Tukang Becak Naik Haji

Kaskus.Co.Id | Warga Rw 02 Rt 02 Kelurahan Pabean Pekalongan Utara, Tholib (53) alias Carub yang berprofesi tukang becak, berhasil mengumpulkan uang selama 25 tahun, hingga mencapai Rp 42 juta lebih untuk berangkat ke Tanah Suci.
NIAT sepasang suami istri, Carub dan Castin untuk berangkat suci bakal kesampaian, pasalnya pria yang keseharianya menjadi tukang becak dan biasa mangkal di Stasiun Kereta Api Kota Pekalongan itu akan berangkat haji, Sabtu di hari ke 30 Oktober tahun 2012.

Selama menjadi tukang becak dari tahun 1980-an hingga sekarang, Carub mengaku setiap hari mangkal di beberapa tempat untuk untuk menunggu pelanggannya.
Sementara setiap hari ia berangkat pukul 07.00 sampai menjelang sholat Dzuhur ia pulang kerumah untuk menunaikan sholat.
Sekitar pukul 13.00 ia berangkat kembali sampai mendapatkan uang untuk mencukupi kenutuhan keluarga dan menabung, namun kalau belum mendapatkan uang, ia rela pulang sampai pagi hari dan tidur di becak.
Pria yang dikaruniai 6 orang anak dan semua lulus Madrasah Diniyah itu, setiap hari menabung yang disesuaikan dengan penghasilan dari mendorong becak.
Kalau satu hari ia biasanya menyisihkan setengahnya, apabila mendapat uang Rp 20 ribu maka yang ditabungkan Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribu, dan sisanya untuk kebutuhan keluarga. Saat mendapatkan uang sedikit, ia rela makan seadanya.
Ia menabung disebuah kotak, setelah terkumpul hingga Rp 1 juta atau lebih, ia menabungkan di bank, dan sekitar sudah terkumpul hingga Rp 21 juta ia baru mendaftarkan untuk naik haji pada tahun 2008 dan untuk mencapai Rp 42 juta ia mengikuti arisan bersama tetangga, satu minggu Rp 50 ribu dan mendapat jutaan.
“Saya mengumpulkan uang sudah ada 25 tahunan lebih disebuah kotak, hasil menjadi tukang becak, setiap hari kadang Rp 5 ribu, hingga Rp 20 ribu, dan itu semua awalnya saya berkhayal untuk naik haji. Namun dengan menyisihkan uang itu setiap hari akhirnya kami bisa berangkat ke Tanah Suci untuk memenuhi rukun ke 5 sebagai umat Islam, sekaligus napak tilas Kanjeng Nabi Muhammad,” ungkapnya.
Rencananya, saat akan berangkat akan dikawal oleh petugas Kepolisian dan diiring oleh ratusan tukang becak dan terbangan dari rumah sampai ke pelataran Pemkot.


 
/* muamar-kurosaki.com Likebox Pro FBFan Code Start --------- */