Muzdalifah
Muzdalifah: terletak antara Mina dan Arafah. Batasnya dari wadi
Muhassir sampai Al-Ma’zamain atau dua gunung yang saling berhadapan yang
dipisahkan oleh jalan. Muzdalifah ini termasuk masy’aril haram dan
tanah suci,
firman Allah
فَإِذَآ أَفَضْتُم مِّنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُواْ اللَّهَ
عِندَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَإِن كُنْتُمْ
مِّن قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّآلِّينَ – البقرة ﴿١٩٨﴾
Artinya: “Maka apabila kamu telah bertolak dari Arafah,
berzikirlah kepada Allah di Masy`arilharam. Dan berzikirlah (dengan
menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan
sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang
sesat”. (Qs Al-Baqarah ayat:198)
Menurut ibnu umar ra. yang dimaksud dengan Masy’aril haram dalam ayat tersebut ialah Muzdalifah seluruhnya.
Muzdalifah juga merupakan tempat mabit atau bermalam, setelah
meninggalkan Arafah tanggal 9 Dzulhijjah. Jamaah Haji dianjurkan untuk
sholat Maghrib & Isya jama’ ta’khir dengan satu Azan dan 2 kali
Iqamat di Muzdalifah, lalu menuju ke Mina setelah shalat Subuh.
Dianjurkan memungut batu kerikil untuk melempar Jumroh di Mina atau
diperbolehkan juga memungut batu kerikil di Mina.
Mina
Mina merupakan tanah haram karena lokasinya berdekatan dengan Makkah.
Jaraknya dengan Makkah kurang lebih 7 km. Mina adalah perkampungan
kecil yang dihuni oleh manusia setahun sekali dengan tujuan mabit
(bermalam) dalam rangka manasik haji, karena itu orang Arab menyebutnya
Mina.
Mina mulai penuh didatangi oleh jamaah haji pada tanggal 8 Dzulhijah
atau sehari sebelum wukuf di Arafah. Jama’ah haji tinggal disini sehari
semalam sehingga dapat melakukan sholat lima waktu. Kemudian setelah
sholat Subuh tanggal 9 Dzulhijah, jamaah haji berangkat ke Arafah.
Kemudian Jama’ah haji datang lagi ke Mina setelah selesai melaksanakan
wukuf di Arafah yaitu pagi tanggal 10 sampai dengan tanggal 13 Dzulhijah
dan wajib untuk bermalam dan melempar jumroh pada hari-hari tersebut.
Adapun pergi ke Mina pada tanggal 8 Dzulhijjah (hari Tarwiyyah)
hukumnya sunah. Sementara itu mabit atau menginap di Mina dan melontar
Jumroh pada hari-hari tasyrik merupakan wajib haji, artinya bila tidak
dikerjakan maka hajinya tetap sah namun dia harus membayar denda yang
disebut dalam ilmu fiqih ”Dam”.
Di Mina ada tempat melempar jumroh, yaitu Jumroh Aqabah, Jumroh
Wustha dan Jumroh Ula. Tentu ketiga jamarat itu memiliki nilai sejarah
yang sangat penting bagi umat islam yang berkaitan erat dengan sejarah
nabi Ibrahim dan puteranya Ismail as.
Selain 3 jumroh kita temukan sebuah masjid bersejarah yang disebut
masjid al-Kheif. Konon letaknya dikaki gunung tidak berjauhan dari
jumrah Ula. Di sana Nabi saw pernah sholat demikian pula para Nabi
sebelum beliau.
Rasulullah saw ketika haji wada’ bermalam dan sholat di Mina pada
malam hari-hari Tasyriq yaitu hari 10, 11,12, 13 Dzul Hijjah, dimana
didalamnya terdapat pula Hari Raya Idul Adha.
قَوْله صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : نَحَرْتُ هَاهُنَا , وَمِنًى كُلّهَا مَنْحَر , فَانْحَرُوا فِي رِحَالِكُمْ (رواه مسلم)
Nabi saw bersabda: “Aku menyembelih korban di sini, dan seluruh Mina
ialah tempat menyembelih, maka sembelihlah korban dalam perjalanan
kalian”. (Shahih Muslim)
وَاذْكُرُواْ اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَّعْدُودَاتٍ فَمَن
تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ فَلاَ إِثْمَ عَلَيْهِ وَمَن تَأَخَّرَ فَلا
إِثْمَ عَلَيْهِ
Artinya: ”Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam
beberapa hari yang berbilang. Barangsiapa yang ingin cepat berangkat
(dari Mina) sesudah dua hari (Maksudnya Nafar Awal), maka tiada dosa
baginya. Dan barang siapa yang ingin menangguhkan (keberangkatannya dari
dua hari itu) (Maksudnya Nafar Tsani), maka tiada dosa baginya” (Qs
al-Baqarah ayat:203)
Sumber:
Hasan Husen Assegaf.